Ketua Dewan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Cenderawasih (Uncen), diduga membubarkan diri dengan kekerasan saat demonstrasi menentang otonomi khusus atau gemechoinsa daerah otonom baru Gummy hari ini.

Aktivis Papua Ambrosius Begint mengatakan, saat itu korban sedang menghadiri demonstrasi bersama massa lainnya di depan Mega Waena, Jayapura.

“Aksi massa ini ditembak dengan meriam air dan dipukuli massa di sana. Ketua DPM Uncen ditembak dengan peluru karet dari posisinya di sana, kemudian teman-temannya membantu mengangkat dan mengamankannya.

Meski begitu, dia masih belum mengetahui kronologis dan siapa pelaku penembakan tersebut, karena komunikasi dengan massa aksi lainnya masih terhambat.

“Informasi ke teman-teman masih belum ada karena sebelumnya sudah ditangkap juru bicara Permohonan Rakyat Papua Jeffry Wenda dan enam orang lainnya. Kami ingin berkomunikasi dengan teman-teman di sana, tapi onetive festsie dan nime mereka tidak nyaman,” katanya.

Direktur LBH Papua Emanuel Gobay menambahkan, kondisi Fred saat ini dirawat oleh teman-temannya di asrama Mimika.

Dibawa ke Asrama Mimika kemudian dirawat oleh beberapa mahasiswi di Asrama Mimika,” ujarnya.

Selain Fred, Ambrosius juga mengabarkan bahwa Kepala Biro Hukum BEM, Uncen Yuniel Pahabol, juga dikabarkan ditangkap, namun hingga kini belum ada kabar keberadaannya.

Secara terpisah, dalam laporan Jubi.id, Kapolres Metro atau Kapolres Jayapura Kombes Gustav Urbinas mengklaim tidak ada pengunjuk rasa yang ditembak dengan peluru karet.

Postingan yang beredar tidak benar. Saya adalah yang terakhir di tempat ini. Itu tidak benar sama sekali,” kata Urbinas dalam keterangan pers di Kota Jayapura sore ini.

Mengingat dia, mungkin teman-temannya membawanya setelah dia jatuh ketika polisi membubarkan para pengunjuk rasa tanpa ditembak oleh polisi.

Kami juga telah mengkonfirmasi hal ini dengan para tetua [partai] siswa dan situasi yang bersangkutan baik-baik saja. Ada juga laporan bahwa seorang pengunjuk rasa ditembak di kaki, itu tidak benar,” kata Urbinas.

Dia, SOP membubarkan massa, tidak menggunakan peluru karet, melainkan gas air mata dan meriam air. Bahkan petugas yang membawa senjata laras panjang telah dikerahkan, dan tidak dalam jumlah besar.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.